24

February

URGENSI PROMOSI EKSTERNAL DAN INTERNAL PARIWISATA BUDAYA BALI MEMASUKI ERA AFTA 2015

Made Sulasa Jaya / Eksekutif Direktur PHRI Badung

Banyak pakar mengatakan bahwa promosi itu istilah lain dari marketing communication , berarti bagian yang tak terpisahkan dari marketing, yang dilakukan keluar pasar maupun dilakukan secara internal perusahaan (semua karyawan sampai ke owner) atau internal sebuah destinasi wisata seperti Bali , berupa komitmen semua masyarakat sebuah destinasi pariwisata, untuk memejukan pariwisata khususnya berpromosi, karena ibaratkan gunung es, promosi adalah bagian yang kelihatan di permukaan air, sedangkan marketing adalah keseluruhan dari gunung es tersebut yang menjadi bagian tak terpisahkan dengan promosi.

Kegiatan promosi itu banyak macamnya, ibaratkan disaat kampanye, ada yang berkomunikasi dengan memasang baliho, ada melalui televisi dan sepertinya ada semacam kewajiban untuk melakukan kunjungan kerja promosi, semacam simakrama, sebagai kegiatan kampanye (promosi) yang paling dianggap efektif, namun bedanya dengan promosi pariwisata, tidak bisa dilakukan sesaat-sesaat seperti menjelang pemilu saja, tapi harus dilakukan secara reguler dan konsisten, apalagi mempromosikan pariwisata budaya yang sifatnya sangat dinamis dan sangat tergantung pada situasi dan kondisi tertentu yang terus berubah-ubah atau sangat rentan dengan perubahan, yang akan mempengaruhi kondisi dan situasi sebuah destinasi pariwisata.

Sebagai masyarakat pariwisata budaya, kita tidak cukup hanya sebatas bisa bicara tentang tari-tarian, lukisan, musik, upacara, bangunan sebagai hasil budaya, namun juga harus paham akan nilai-nilai  luhur budaya yang direperesentasikan dalam hasil budaya tersebut, misalkan hasil budaya berupa desa adat dengan kahyangan tiga yang menggambarkan keluhuran karakter seorang kesatrya yang mengutamakan manfaat seperti konsep catur warna di Bali. Adat, budaya dan pariwisata hendaknya secara realitas mampu menunjukkan ke simbiose matualitasannya sebagai penghargaan terhadap adat budaya maupun kepada pelakunya , baik secara ekonomis maupun secara histori, pengenalan dan pemasyarakatan nilai-nilai ini akan menjadi sangat strategis dalam pembangunan Bali menghadapi percampuhan budaya di era yang semakin menglobal

Bapak Ketut Wiana pernah menulis di Bali pos (29/12/2013) tentang arti kata pariwisata budaya yang berasal dari kata sansekerta dimana kata pariwisata berasal dari kata pari yang berarti  disekitar atau sekeliling sedangkan wisaata berarti senang; enak; tentram;  bepergian, dan berangkat, sedangkan kata budaya berasal dari kata budh yang artinya sadar atau mengetahui.

Sedangkan dalam beberapa tulisan di internet ada yang mengemukakan bahwa budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia, dan juga ada pernyataan yang mengatakan bahwa budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh, dan banyak lagi difinisi lainnya

Mengacu pada beberapa pernyataan diatas tentang budaya, kiranya dapat kita tarik makna kata-katanya untuk dirangkai menjadi sebuah pernyataan bahwa budaya adalah : budhi dan akal manusia yang sadar dan memahami akan nilai-nilai kehidupan bersama yang harus dilaksanakan agar memberi manfaat bagi sekelompok pelaksananya. Nilai-nilai kehidupan bersama ini tentunya tidak sama diantara satu daerah dengan daerah lainnya karena didalamnya ada warna yang tidak sama seperti keyakinan, bahasa, alam lingkungan, pendidikan, kebijakan penguasa adat dan lain sebagainya, yang aneka keberadaannya dilindungi oleh negara

Dari pola hidup yang menyeluruh tersebut maka lahirlah buah budaya, yang di Bali diantaranya secara phisik berbentuk subak, upakara agama, tari-tarian, barang seni dan sebagainya, yang masing-masing berisikan nilai-nilai kehidupan bersama. Karena ada buah budaya berbentuk phisik , tentunya ada juga buah budaya berbentuk non- phisik, seperti diantaranya, kagotong royongan, rasa malu, bahasa, toleransi, keyakinan dan sebagainya.

Khusus untuk Bali yang saya pahami, budaya sebagai pola hidup bersama secara menyeluruh, berkaitan pula dengan konsep lingkungan dan bangunan seperti konsep, asta bumi dan asta kosala-kosali, konsep tri angga, konsep ulu-teben, konsep segara-gunung, tri hita karana, paras-paros sarpanaya, salunglung sabayan taka, konsep pengider-ider, dll , yang dipakai tuntunan hidup sehari-hari oleh masyarakat Bali sesuai dengan desa-kala-patra yaitu tempat, waktu dan keadaan yang sebagian besar dituangkan dalam hukum (awig) adat yang membudaya secara turun-menurun,  yang kebetulan kesemua itu menjadi gaya tarik dunia yang sudah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali pada khususnya.

interpretasi tentang agama dan keyakinan merupakan salah satu unsur yang sangat kuat menentukan nilai-nilai budaya, oleh sebab itu diseluruh belahan dunia, perubahan interpretasi keyakinan akan sangat ditentukan oleh pola hidup bersama para pelaku budaya, seperti misalnya yang saat ini terjadi di Bali sebagai daerah tujuan pariwisata, karena intensitas pembauran berbagai budaya telah melahirkan budaya pluralisme yang memiliki nilai-nilai kekinian, termasuk pula mulai tumbuhnya isu-isu persaingan budaya sampai terjadi intervensi budaya dan keyakinan.

Kalau di Bali ada kampung Jawa, kampung Arab, Kampung Bugis dan sebagainya, kita semua menganggapnya sebagai suatu hal yang wajar, namun akan menjadi sangat tidak wajar kalau Bali hanya akan menyisakan kampung Bali di Bali, tentunya jikalau orang Bali sendiri sebagai pelaku budaya Bali tidak memperhatikan pembangunan adat-budaya Bali sebagai identitas ke-Balian dengan baik dan benar, atau bahkan orang asing yang kita percayai untuk menjual budaya Bali, akan sama seperti “pedagang capcay menjual lawar”, seperti yang diumpamakan oleh mantan Bupati Gianyar yang lebih dikenal dengan sebutan Cok Ace, ketua BPPD Bali. Misalnya seperti banyaknya guide asing yang beroperasi di Bali, semakin maraknya bangunan bukan berarsitektur/ bercirikan budaya Bali dan bahkan di era AFTA 2015 mendatang akan semakin banyak pekerja asing yang ikut-ikutan mempromosikan dengan versi yang berbeda-beda untuk kepentingan mereka semata.

Kita tentunya masih ingat, diera tahun tujuh puluh dan delapan puluhan, pekerja asing di Bali diwajibkan mengikuti pendidikan adat-budaya Bali yang dikemas dengan program pengenalan Pancasila, agar bisa menyesuaikan sikap dan prilakunya dengan masyarakat Bali, apakah hal tersebut masih diberlakukan saat ini ? , dan masihkan budaya Bali relevan dengan kehidupan era global ?.  sesuatu yang harus menjadi prioritas pemikiran kita bersama dalam pembangunan Bali kedepan dalam menghadapi era global mendatang

Sertifikasi kompetensi tenaga kerja pariwisata kini menjadi kewajiban untuk semua tenaga kerja di Bali pada khususnya, dan jika kita memahami bahwa unsur kompetensi tenaga kerja tersebut menyangkut pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan sikap prilaku (atiitude), bukankan unsur sikap prilaku masih bisa merujuk pada budaya sikap dan prilaku masyarakat daerah (Bali), tanpa harus mencinderai kesepakatan Asean tentang AFTA ?, demikian pula dengan kesempatan untuk memasyarakatkan adat budaya Bali melalui kegiatan sertifikasi (standar) usaha sebagaimana diwajibkan oleh UU Pariwisata no 10 tahun 2009

Gerakan memasyarakatkan/mempromosikan kembali adat-budaya Bali di Bali, khususnya untuk masyarakat pelaku pariwisata, kiranya akan bisa menjadi bagian dari pembangunan Bali yang bersifat khusus dan mendapat prioritas menjelang AFTA 2015 mendatang, jika tidak, Bali akan semakin cepat menjadi ‘kampung Bali di Bali”. Saat ini, disaat supply kamar hotel jauh melebihi demand , maka pariwisata budaya Bali tidak saja butuh promosi keluar untuk meningkatkan jumlah kedatangan serta pengeluaran wisatawan, tentunya pula untuk meningkatkan pendapatan daerah , namun pariwisata budaya Bali juga butuh promosi kedalam, mengingat semakin banyak pekerja pariwisata dari luar yang kurang memahami adat budaya Bali, dan gerakan ini tentunya sebagai dukungan atas pariwisata budaya berkerakyatan yang berkelanjutan.

Untuk terwujudnya iklim yang lebih kondusif dalam dunia kepariwisataan yang berbudaya Bali, yang berkerakyatan dan yang berkelanjutan, masyarakat Bali sangat membutuhkan peran pemerintah daerah dan parner kerjanya di gedung rakyat,  agar lebih banyak dan proporsional menyisihkan hasil pariwisata untuk meningkatkan kualitas promosi dan kinerja kepariwisataan budaya itu sendiri, dengan tujuan untuk mengamankan pendapatan yang lebih besar dari sektor pariwisata dimasa mendatang.

 

Message to webmaster