31

December

TANPA PARIWISATA BADUNG DAERAH MISKIN, DIAMBANG ERA MEA 2015. TATA KELOLA PERIWISATA BUDAYA HARUS DILAKUKAN LEBIH SERIUS DAN PERCAYA DIRI
Selain Indonesia, negara lain di Asean seperti Malaysia, Thailand, Singapore, Brunai juga ikut berebut kue pariwisata, halmana dikarenakan begitu besarnya potensi ekonomi dari kegiatan kepariwisataan yang pertumbuhannya diantara tahun 2005-2012 mencapai 8,3%, diatas rata-rata pertumbuhan kepariwisataan global yang berkisar 3,6%, bahkan ditahun 2013 sudah mencapai 92,7 juta pergerakan wisatawan atau 12%.

Pada tahun 2015 mendatang pada saat akan mulai dilaksanakannya perjanjian MEA, diperkirakan angka kedatangan wisatawan ke Indonesia akan semakin tinggi, termasuk kedatangan tenaga kerja luar ke Indonesia. Kondisi ini tentunya perlu diantisipasi oleh pemerintah dengan percepatan sertifikasi kompetensi tenaga kerja Indonesia, yangmana daya saingnya masih lemah dibandingkan dengan negara lain, halmana diindikasikan dengan masih rendahnya prosentase eksport sektor jasa yang masih berkisar 21% dari total eksport Indonesia. Lain halnya dengan Amerika, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya yang sudah mencapai prosentase eksport sektor jasa rata-rata diatas 50% dari total eksportnya, bahkan diberitakan RRT saja sudah mencapai prosentase 30% dari total eksportnya.

Oleh sebab itu peningkatan daya saing Indonesia sebagai destinasi pariwisata, selain yang berupa sertifikasi standar keamanan dan sertifikasi standar usaha juga harus diimbangi dengan peningkatan (kompetensi) daya saing SDM Indonesia, termasuk daya saing didalam mempromosikan besarnya potensi sektor jasa pariwisata yang dimiliki oleh Indonesia, semoga informasi ini akan menjadi perhatian masyarakat yang selama ini masih berpendapat bahwa Bali sudah tidak perlu dipromosikan lagi, karena sudah terkenal, suatu pendapat yang kurang selaras dengan perubahan global yang tidak pernah berhenti, karena promosi pada initinya adalah menginformasikan kepada potensi pasar lokal maupun internasional atas perkembangan produk dan pelayanan yang sangat dinamis.

Kalau kita cermati kata-kata mbah google, promosi adalah upaya untuk memberitahukan atau menawarkan produk atau jasa dengan tujuan menarik calon konsumen untuk membeli atau mengkonsumsinya, dan menariknya adalah bahwa pelayanan pariwisata mendudukkan konsumen dan pemberi jasa dalam posisi yang hampir sejajar disaat terjadinya transaksi pelayanan, oleh karenanya promosi juga harus dilakukan kedalam.

Berpromosi bukan sekedar jalan-jalan menggunakan uang rakyat, beberapa tujuan kegiatan promosi adalah bertujuan untuk mendapatkan pelanggan baru dan menjaga kesetiaan pelanggan, hal ini menuntut adanya promosi secara konsisten dan berkelanjutan, dan promosi juga bertujuan untuk menjaga kestabilan penjualan ketika terjadi lesu pasar. Sebagai salah satu penunjang kegiatan promosi dalam membedakan serta mengunggulkan produk dan strategi yang dikembangkan oleh negara pesaing, maka promosi juga membutuhkan kegiatan riset yang memadai, disamping salah satu tujuan lain akan pentingnya promosi adalah untuk menjaga dan membentuk citra produk di mata pasar sesuai dengan yang diinginkan

Mengkomunikasikan segala kegiatan atas dasar komitmen atau janji-janji dalam berpromosi kepada pasar adalah bagian dari pencitraan yang bersifat sangat dinamis, yang harus dikelola secara profesional oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Promosi wajib diimbangin dengan pembenahan produk dan pelayanan secara koordinatif , ini membutuhkan lembaga koordinatif semacam Bali Tourism Board yang memiliki ruang lingkup kegiatan yang menyeluruh, mengkoordinir semua stakeholder kepariwisataan Bali, berbeda dengan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia  (GIPI) Bali dengan ruang lingkupnya terbatas pada kegiatan para pengusaha semata-mata.

Pencitraan tidak bisa diwujudkan oleh kaum pengusaha dan pemerintah semata-mata, namun harus dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat, termasuk koordinasi lintas satuan kerja pemerintah daerah (SKPD), antar kabupaten/kota yang ada di Bali, aparat keamanan, desa adat pekraman, penegak hukum dan seluruh pengusaha secara berjenjang. Seyogyanya Bali ditingkat provinsi tetap memiliki lembaga semacam BTB yang mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai pengarah dan koordinator, dan memiliki Badan Koordinasi Pembangunan Kepariwisataan Daerah di tingkat Kebupaten/Kota. Melalui koordinasi inilah segala potensi daerah diberdayakan secara maksimal untuk satu tujuan bersama. Koordinasi yang baik akan dapat mengawasi dan membina pembangunan kepariwisataan, termasuk untuk mengendalikan persaingan harga

Oleh karena begitu pentingnya peran industri kepariwisataan dalam pembangunan daerah maka tata kelola bidang kepariwisataan harus dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh masyarakat. Dan atas perintah UU No 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan maka Bupati Badung berdasarkan Perbup No 73 tahun 2013, telah menetapkan terbentuknya Badan Promosi Pariwisata (BPPD) Badung, sebagai kelengkapan dari pelaksanaan pembangunan kepariwisataan Badung. Dan dilanjutkan dengan turunnya SK No 1301/02/HK/2014 tentang unsur penentu kebijakan BPPD Kabupaten Badung yang diketuai oleh I GN Rai Suryawijaya SE MBA yang juga merangkap sebagai Ketua PHRI Badung.

Sejak dilantiknya unsur kebijakan BPPD Badung tanggal 20 Agustus 2014, para pengurusnya telah berkomitmen untuk menjadi partner kerja semua pihak , pemerintah kabupaten Badung pada khususnya, sudah melakukan kegiatan sosialisasi dan penyerapan masukan melalui serangkaian pertemuan dengan masyarakat pariwisata, BPPD Bali, termasuk sudah beraudensi dengan Bupati Badung, Kadisparda Badung dan juga ke Kepala Bappeda Badung untuk memperoleh masukan, yangmana segala masukan tersebut akan menjadi materi rapat kerja pertama yang akan dilaksanakan akhir bulan Oktober ini.

Dalam raker nanti akan dibicarakan tentang jejering dan kemitraan dengan konsep tata kelola pertisipatif, riset dan pengembangan, serta pelaksanaan promosi dan event kreatif yang didalam kesemuanya itu tentunya juga ada standar dan kreteria tata kelola dan pendanaan termasuk pelaporan pertanggung jawaban penggunaan dana promosi. (sulasa)

 

Message to webmaster