20

September

PERSEDIAAN KAMAR DI BALI MASIH CUKUP UNTUK MENGANTISIPASI 20 JUTA KEDATANGAN WISMAN KE INDONESIA DI TAHUN 2019


Daya dukung Bali dari segi infra struktur jalan, keamanan, parkir dan fasilitas penunjang lainnya seperti air. listrik, SDM dan daya dukung masyarakatnya, khususnya masyarakat pelaku budaya Bali patut kita pertanyakan, bukan menambah pembangunan kamar.  Jangan sampai ada pikiran bahwa Bali perlu tambahan kamar, karena bapak Jokowi menargetkan 20 juta kedatangan wisman ke Indonesia di tahun 2019, dimana Bali biasanya memberikan kontribusi 35% sampai 40% dari jumlah kedatangan wisman tersebut, yang jumlahnya akan berkisar  6,65 juta untuk Bali di tahun 2019.

Kalau jumlah kedatangan wisman ke Bali ditahun 2014 berkisar 3.766.638 orang, maka mulai tahun 2015 dan seterusnya kenaikan minimal jumlah kedatangan wisman ke Bali harus mencapai kenaikan rata-rata setiap tahun sebesar 11,3% hingga12,8%. Strategi promosi seperti apa yang bisa merealisasikan pencapaian ini jika dana promosi pemerintah daerah Bali terus berkurang ? inilah tantangan para praktisi pariwisata Bali kedepan.

Kebijakan Bali yang seakan-akan mengatakan : “Bali tidak perlu dipromosikan”, sangat berbeda dengan kebijakan Nasional yang meningkatkan dana promosi pariwisatanya menjadi diatas satu triliun rupiah, untuk merealisasikan target kunjungan wisman mencapai 20 juta ditahun 2019. Sebagai bentuk dukungan kebijakan Bapak Presiden dan amanat UU Pariwisata No 10 tahun 2009, kabupaten Badung juga sudah memiliki Badan Promosi Pariwisata dan juga sudah mengalokasikan dana hibah untuk BPPD Badung sejumlah tiga milliar, dan kiranya hal yang sama juga  akan dilakukan oleh pemerintah Kota Denpasar.

Kedatangan wisatawan Nusantara ke Bali, kini menurun hingga 2% sampai 5%, dan diperkirakan jumlahnya akan terus menurun dengan adanya larangan PNS tidak boleh mengadakan kegiatan rapat di hotel. Faktor lain yang diperkirakan mempengaruhi turunnya jumlah wisatawan Nusantara ke Bali akhir-akhir ini adalah pergolakan politik seperti pemilu, perseteruan para elit politik yang dikait-kaitkan dengan perseteruan antar kelembagaan tinggi negara, isu hukuman mati untuk anggota Bali-Nine, dan tentunya karena semakin banyaknya jumlah destinasi wisata yang bermunculan dan berkembang di Indonesia.

Jikalau jumlah kedatangan wisman ditambah dengan perkiraan kedatangan wisnus yang jumlahnya diperkirakan antara 8 sampai 9 juta setiap tahunnya , maka Bali akan membutuhkan sekitar 17 sampai 24,4 juta room night setiap tahun, dengan perkiraan rata-rata lama tinggal wisman dihotel 3,17 malam dan wisnus 2,7 malam dengan tingkat hunian ganda 98%.

Berdasarkan angka statistik tahun 2013 oleh dinas pariwisata Bali, tingkat hunian rata-rata ditahun 2013 untuk hotel berbintang sebesar 56,10%, kita bisa perkirakan rata-rata hunian hotel di Bali termasuk notel non-bintang ditahun yang sama pastinya akan lebih rendah, yang diperkirakan baru berkisar 43,11%.

Sesuai dengan perkiraan angka-angka diatas, dan penilaian para tokoh pariwisata di Bali, memperkirakan ketersediaan kamar di Bali saat ini sudah mencapai angka sembilan puluh ribu sampai seratus ribu kamar  yang artinya , saat ini saja Bali memiliki persediaan sekitar 36,5 juta room nights, jumlah yang cukup untuk menampung kebutuhan kamar ditahun 2019, atau bahkan untuk kebutuhan kamar di tahun 2022.

Dengan tingginya tingkat persaingan, yang menyebabkan turunnya harga kamar hotel di Bali,  masih rendahnya tingkat kepatuhan pengusaha untuk mengurus perijinan dengan berbagai alasan,  baik mengurus ijin baru maupun memperpanjang ijin operasional yang sekarang ini disebut dengan  Surat Tanda Daftar Usaha, dan dengan masih sangat lemahnya pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah, kiranya tidaklah berlebihan jika Bali seharusnya menghentikan sejenak penambahan pembangunan phisik yang berkaitan dengan penambahan jumlah kamar hotel pada khususnya , sebagai gantinya, Bali harus meningkatkan promosi untuk terwujudnya kondisi dunia kepariwisataan agar tetap kondusif, dan melakukan perencanaan ulang berkaitan dengan pembangunan Kepariwisataan Bali yang berbudaya, berkualitas, berkerakyatan dan berkelanjutan.

Made Sulasa Jaya : Eksekutif Direktur PHRI Badung

 

Message to webmaster