16

December

Kepariwisataan Badung membutuhkan realitas penataan dan pengendalian produk serta pelayanan yang singkrun dengan kegiatan promosinya

Menurut data yang kami terima dari disparda Badung, jumlah usaha jasa akomodasi di Badung bertambah dari 1,580 usaha di tahun 2012 dengan jumlah kamar yang tercatat sebanyak 45,491, menjadi 1,665 usaha dengan jumlah kamar 48,523, naik 6,67%. Diperkirakan angka diatas akan terus bertambah di tahun 2014 mendatang, mengingat sampai April 2013, sudah dikeluarkan ijin prinsip pembangunan 112 usaha yang terdiri dari hotel, kondotel dan rumah sewa, dengan jumlah 10,736 kamar,   dan jikalau kebijakan pembangunan usaha akomodasi dan kinerja BPPT kabupaten Badung sampai akhir 2013 sama dengan kinerja disparda Badung selaku instansi yang mengeluarkan ijin prinsip sebelumnya, maka diperkirakan “jumlah kamar tercatat” di Badung sampai kuartal pertama 2015 akan bisa mencapai diatas 63.355 kamar.

Maraknya pengurusan ijin prinsip di tahun 2013 ini diperkiraan merupakan respon investor untuk menghindari rencana berlakunya ketentuan tentang minimal lahan hotel 25 are dan luasnya kamar minimal 32 meter persegi.

Berdasarkan angka polling di Badung tentang prosentase rata-rata tingkat hunian kamar, tahun 2013 ini tingkat hunian diperkirakan menurun dari 61,19% ditahun 2012 menjadi 57,27%. Sedangkan tingkat hunian terendah ada di kawasan Jimbaran.

 Walaupun rata-rata jumlah wisatawan manca negara yang datang ke Bali sampai dengan Agustus 2013 naik 11,56% dan di Badung naik 15,14%, namun prosentase kenaikan diatas tidak seimbang dengan kenaikan prosentase perolehan dari PHR di Badung di tahun 2013, yang diperkirakan hanya mencapai 3,50%. Angka inipun diperkirakan di dongkrak oleh tingginya kenaikan rate US Dollar terhadap rupiah pada tahun ini, dan kenaikan ini jauh dibawah kenaikan pada periode 2009 s/d 2012 yang mencapai rata-rata diatas 20% dengan rate US Dollar yang lebih rendah

Tren pembangunan kepariwisataan pada sektor jasa akomoasi dan restoran di potret dari tren penerimaan PHR di kabupaten Badung yang kenaikannya merosot turun ini sangat mungkin diakibatkan juga dengan tingginya perang tarif yang salah satunya diakibatkan oleh maraknya pembangunan tipe city hotel ke daerah resort, yang bukan saja bangunannya bergaya minimalis namun juga pelayanan dan tarifnya juga minimalis.

Dengan kondisi tingkat hunian dan perang taraif seperti diatas, Bali dan Badung pada khususnya masih kekurangan banyak wisatawan, oleh sebab itu perlu usaha yang lebih kreatif untuk memperpanjang lama tinggal dan meningkatkan uang belanja wisatawan dengan menampilkan produk dan pelayanan yang lebih berkualitas dan kegiatan promosi yang lebih tepat sasaran, serta tentunya kedua faktor pemasaran pariwisata ini yaitu produk, pelayanan dan promosi harus lebih koordinatif di tahun mendatang.

 

Made Sulasa Jaya

Eksekutif Direktur PHRI Badung


 

Message to webmaster