20

September

BUDAYA BALI BUKAN UNTUK PARIWISATA MAUPUN HARGA DIRI

Kita masih ingat dengan sejarah perjalanan kapal - kapal dagang Belanda yang dipimpin Laksamana Cornellius de Houtman, berlayar kearah timur jajaran pulau - pulau Nusantara untuk mencari rempah - rempah, yang akhirnya melihat pulau yang hijau dan indah yang penduduknya menyebutnya sebagai Pulau Bali.

Ekspedisi tersebut tidak menemukan rempah - rempah kecuali gaya hidup masyarakatnya yang sangat berbeda dengan gaya hidup masyatakat di pulau - pulau lain yang pernah ia singgahi, kemudian mulai tahun  1679 itulah Bali mulai dikenal dunia dengan gaya hidup masyarakatnya yang sangat unik dan menarik.

Pulau kecil yang sebagian besar daratannya berupa pegunungan telah memaksa masyarakatnya untuk membuat lahan pertanian yang bertingkat - tingkat, membuat saluran irigasi yang dapat digunakan bersama - sama kelompok petani pengguna air yang disebut subak, membuat sistem konservasi air dengan mendirikan tempat - tempat suci yg dihormati (disakralkan), membuat budaya keyakinan yang sekarang disebut budaya agama yang kesemua hal diatas didasari oleh nilai - nilai luhur kamanusiaan, penghormatan terhadap alam sebagai sumber kesejahteraan dan kebahagiaan.

Jika saja de Houtman masih hidup dan datang lagi ke Bali saat ini, pasti dia tidak lagi memerintahkan anak buahnya untuk mendirikan tenda - tenda, karena Bali sudah kelebihan kamar hotel, tidak perlu lagi memerintahkan anak buahnya berlayar ke Batavia untuk melaporkan sesuatu karena sekarang sudah ada pesawat terbang dan gedget, bahkan tidak perlu membawa penerjemah karena banyak anak - anak Bali sudah berbahasa Belanda.

Beberapa puluh tahun kebelakang karir petani padi masih menjadi favorit masyarakat Bali, karena belum mengenal beras dari daerah lain, namun sekarang sudah ada beras import atau mungkin beras imitasi, dunia ini memang semakin kejam yang disebabkan globalisasi yang mengalihkan perhatian masyarakat ke gaya konsumtif yang baru dan tingkat persaingan yang semakin tajam, dan menomor duakan pembangunan sosial budaya, lingkungan dan kebahagiaan umat manusia yang selalu dianggap kecil.

Jika dijaman kecil saya tahun 50 an, kalau bepergian dengan kendaraan kemana saja di Bali, sering kali kita harus menunggu pembantu sopir yang mengaturkan "canang" di berbagai tempat dalam perjalanan, suatu perbuatan yang sangat menarik jika saja tetap dilakukan sampai saat ini, paling tidak ada pengalaman unik yang bisa disampaikan oleh para guide kepada wisatawan di perjalanan.

Budaya Bali terlahir karena kebutuhan manusia Bali, bukan karena harga diri dan apalagi karena kebutuhan pariwisata, sebagaimana yang tersirat dikebanyakan tempat sekarang ini. Keadaan ini bukan saja merupakan perubahan kulit luar Bali namun sudah mengubah esensi luhur budaya manusia Bali.

Kalau dulu kehidupan dan ajaran kehidupan dilaksanakan dengan rasa tulus iklas, sekarang ini dilaksanakan dengan rasa terpaksa untuk mempertahankan budaya dan pariwisata budaya yang diharapkan sebagai sumber kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat Bali. Harapan tinggal harapan karena heteroginitas masyarakat pelaku budaya di Bali, dimana jumlah masyarakat pelaku budaya terus semakin berkurang, demikian pula fasilitas gaya hidup yang melahirkan nilai - nilai luhur seperti kejujuran, persaudaraan, kedamaian, dan nilai - nilai luhur kemanusiaan lainnya semakin berkurang.

Dari rasa terpaksa untuk mempertahankan budaya pastilah pada akhirnya akan meninggalkan budaya lama, menggantikannya dengan budaya baru yang serba instan dan serba ptaktis.

Yang jelas kita tidak lagi berpikiran tentang konservasi kehidupan budaya sosial, budaya ruang dan budaya meyakinan yang dipikirkan adalah budaya praktis untuk memperoleh uang, yang dipraktekkan oleh hampir semua orang, mulai dari kaum buruh kecil, pejabat, penegak hukum bahkan tidak terlewatkan para rohaniawan dan pendeta sekalian.

Bali dengan budaya luhurnya masih bisa di rekonstruksi tanpa harus mengorbankan nilai - nilai luhur kemanusiaannya jikalau semua kita mau lebih memahami budaya Bali yang sesungguhnya, oleh sebab itu kita harus mulai mengulang lagi komitmen bersama tentang what kind of Bali we want to be?,  sama dengan memahami what is dharma yang harus kita lakukan khususnya pada saat merayakan Galungan.

Made Sulasa Jaya (Eksekutif Direktur PHRI Badung)

 

Message to webmaster