06

August

Mengharap Gubernur Wujudkan Prinsip Pembangunan Pariwisata Berkualitas

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kepariwisataan adalah menguntungkan bagi penduduk yang dikunjungi wisatawan secara berkelanjutan, pernyataan ini merupakan prinsip kelima etika pembangunan pariwisata dunia yang harus dipasangkan dengan prinsip dasar atau filosopi pembangunan daerah yang memiliki ke khasan yang berbeda-beda, seperti contohnya di Bali yang memiliki filosopi kehidupan berdasarkan Tri Hita Karana, dan pembangunan pariwisata budaya.

Untuk mengukur efektifitas pembangunan pariwisata, dibutuhkan rencana sasaran yang utuh, diantaranya menyangkut standar kualitas, target quantitatif yang kesemua target sasaran harus dibuat secara terukur, termasuk rencana pencegahan dan penanggulangan dampak negatif pembangunan pariwisata yang menyebabkan percepatan menurunnya kualitas industri pariwisata itu sendiri.

Satu hal menarik adalah dijadikannya Bali sebagai contoh pembangunan kepariwisataan di Indonesia, dengan adanya istilah Ten New Bali atau Bali and Beyond, yang mengharuskan Bali harus terus berbenah diri dan meningkatkan kualitas diatas kualitas destinasi pariwisata di daerah lain. Salah satu contoh saja pada sisi kualitas infrastruktur jalan, parkir dan penanganan sampah di ibukota provinsi Bali yaitu Denpasar yang masih sangat kurang baik, yang merusak pencintraan pariwisata Bali.

Cakupan, analisa dan sasaran perencanaan pembangunan menjadi sangat penting untuk menilai efektifitas setiap kegiatan yang berkelanjutan termasuk dalam pembangunan kepariwisataan yang dalam undang-undang pariwisata no 10 th 2009, meliputi pembangunan destinasi, industri, pemasaran dan kelembagaan dimana dalam bidang industri saja melibatkan minimal 13 jenis usaha kepariwisataan.

Banyak pakar mengatakan bahwa efektifitas adalah perbandingan antara capaian dengan target sasaran minimal satu (100%). Dalam dunia usaha pengukuran efektifitas ini sudah bukan hal baru lagi, namun bagaimana penerapannya dalam sebuah destinasi seperti Bali, yang menurut saya belum pernah melakukan penilaian tentang efektifitas pembangunan kepariwisataannya secara menyeluruh.

Oleh sebab itu kita berharap pimpinan Bali kedepan wajib memantau efektifitas pembangunan pariwisata Bali, minimal dalam lima tahun kedepan, berdasarkan prinsip-prinsip dasar etika pembangunan kepariwisataan dunia.

 

Mangku Made Sulasa Jaya

30

May

Apa quality tourism?

Banyak pemahaman tentang quality tourism yang dilontarkan masyarakat dari berbagai sudut pandang yang berbeda, kebanyakan mengukur dari rupiah yang dikeluarkan wisatawan dan lama tinggal, dan yang sangat menarik adalah pemahaman mereka tentang quality tourism dengan mengukur level kepuasan wisatawan.

Produk yang berkualitas adalah produk yang memuaskan pelanggan, bukan karena harganya mahal atau bukan karena kemewahannya semata, dijaman "hippis" dibawah tahun 70 an di Bali, kebanyakan dari mereka bukanlah orang miskin, mereka adalah traveller yang memperoleh kepuasan menjalankan kehidupan sesaat menjadi "hippis" dan dijaman tersebut Bali punya produk untuk traveller seperti itu, yang sekarang mungkin modelnya berubah menjadi apa yang dikenal "bagpacker".  Saat ini  hampir semua negara termasuk Indonesia telah menerapkan ISO sebagai jaminan pasar dalam mempersepsikan Indonesia berkaitan dengan kualitas produk dan jasa yang dipasarkan, oleh karenanya muncullah standarisasi usaha sebagai persyaratan minimal, yang wajib diikuti oleh semua pengusaha yang ingin mendapatkan jaminan masuk kepasar Internasional. Dikatakan sebagai persyaratan minimal, karena banyak perusahaan yang sudah

menjalankan sistem menejemen mutu yang dirasakan lebih maksimal dengan "brand" tertentu, yang jaminan  produknya lebih mudah dipersepsikan oleh pelanggan.

Di tahun 2016 ini Travel and Leasure Magazine memberikan penilaian Bali sebagai salah satu pulau wisata terbaik dunia karena persepsi dan pengalaman yang memuaskan wisatawan,  seperti diantaranya tentang ; keindahan dan kearifan budaya lokal, masyarakat yang ramah kepada

wisatawan, Bali seakan memiliki potensi wisata yang tidak habis-habis, pantai, dan tempat wisata yang cukup lengkap. Dan jangan lupa bahwa sebagian daya tarik Bali khususnya daya tarik budaya yang jumlahnya tidak terhitung dan hampir semuanya dapat dinikmati wisatawan at no cost, ini merupakan nilai tambah (value added) bagi Bali yang mungkin tidak kita sadari.

Kondisi yang menguntungkan Bali sebagaimana disebutkan diatas bukanlah jatuh begitu saja dari langit namun dikondisikan oleh Para Leluhur Bali sejak ratusan tahun lalu, bukan sekedar meramal kedepan dalam jangka pendek, namun diwujudkan dalam budaya hormat dan bhakti kepada sesama, lingkungan dan keyakinan mereka yang wajib dijaga konsistensinya.

Budaya hormat dan bhakti tersebut bisa saja dapat disamakan dengan menejemen perencanaan yang kita kenal saat ini walaupun tidak sesederhana sistem manajemen yang kita banggakan dimaksud. Oleh sebab itu kita perlu mengkaji kembali bahwa visi pembangunan Bali yang mengandalkan pariwisata adalah masyarakat Bali yang hormat terhadap sesama dan lingkungan serta bhakti pula kepada keyakinanya. Dan tugas kita sekarang adalah merumuskan misi untuk mewujudkan visi diatas.

Pada saat saya membacakan draf tulisan ini dihadapan istri saya, dia bertanya "untuk menjalankan misi mewujudkan visi tersebut," uangnya darimana? ",  inilah salah satu keunikan budaya para Leluhur kita dimasa lalu, kalau kita bekerja dan berusaha sekecil apapun namun dilandasi rasa hormat dan bhakti dengan bersungguh sungguh serta mencintai pekerjaam kita, niscaya rejeki akan datang dengan sendirinya, karena pendatang ke Bali akan terfibrasi dan terinspirasi dengan budaya Bali dan kemudian tertarik untuk menghargai masyarakat Bali dengan lingkungan dan keyakinanya dengan cara menukarnya dengan dolar mereka.

Pola hidup dan kehidupan inilah butuh perencanaan yang harmonis dengan sistem menejemen saat ini,  tanpa mengurangi hakekat pembangunan quality tourism by side-plan, dalam wujud misi lokal Bali dan tanpa bermaksud mengurangi peran bukan orang Bali, saya berpikir bahwa orang Bali yang memahami dan mencintai Bali sajalah yang bisa berperan lebih maksimal untuk

mewujudkan quality tourism of Bali dengan cara menjaga dan mengembalikan daya tarik otentik Bali, dan pada waktu bersamaan memetik hasil pariwisata yang lebih maksimal untuk masyarakat pelaku budaya.

 

Mangku Made Sulasa Jaya

Eksekutif Direktur PHRI Badung

 

Message to webmaster