DALAM BERPROMOSI HARUS PAHAM BAHWA SETIAP ORANG BERHAK UNTUK BERWISATA

Pelaku promosi pariwisata wajib memahami bahwa berwisata bukan semata-mata untuk bersenang-senang dan buang-buang uang, namun “kebutuhan setiap orang”, yang ada adalah tingkat kebutuhan, kemampuan finansial dan gaya hidup dalam berwisata.

Berwisata dalam rangka menuntut ilmu, berobat, berolah raga, yang pada umumnya dilakukan oleh generasi muda dengan waktu dan kemampuan finansial terbatas, berbeda dengan masyarakat pekerja yang memiliki kemampuan finansial lebih baik, berbeda pula dengan berwisata yang dilakukan oleh masyarakat yang memiliki waktu tidak terbatas, kemampuan finansial, status sosial dan gaya hidup yang dianggap lebih baik. Ketiga jenis wisatawan ini hanyalah contoh dari banyaknya tujuan dan kebutuhan orang berwisata yang masing-masing punya kebiasaan yang berbeda, termasuk salah satunya berwisata dengan gaya hippis seperti yang terjadi di pantai Kuta ditahun tujuh puluhan, atau juga berwisata dengan gaya back paker dijaman milenial sekarang ini.

Brand image sebuah destinasi juga akan menentukan wisatawan kelas mana yang akan didapat oleh destinasi bersangkutan, dan brand image tergantung pada beberapa hal, seperti misalnya budaya masyarakat, kebijakan pemerintah, politik, kebijakan pengusaha dalam menentukan produk dan pelayanan yang ditawarkan menangkap peluang yang ada, seperti pembangunan budgeted hotel, low (at) cost Airline (misalnya Air Asia)  untuk mengakomodasi kebutuhan segmen pasar yang masih sensitif dengan harga, demografi, teknologi dan sejarah serta hubungan antar Negara.

Brand image adalah persepsi apa yang kita tanamkan dalam pasar wisata, itu bisa terjadi secara sengaja atau tidak, seperti misalnya bagaimana secara tidak sengaja kita menggambarkan Bali di pasar wisatawan dunia sebagai destinasi pariwisata budaya untuk semua kelas wisatawan (mass tourism destination).

Pariwisata Budaya Bali, diatas pulau Bali yang sempit berkembanglah budaya yang dianggap unik oleh dunia, dan kita tahu budaya berkembang karena karakter dan karakter berkembang karena kebiasaan masyarakat dalam berinteraksi dengan sesama, dengan lingkungan dan dengan keyakinanya, dan kebiasaan masyarakat Bali sejak pariwisata Bali mulai dikenal dunia adalah kehidupan masyarakatnya yang sederhana, harmonis dengan alam dan keyakinan mereka.

Persepsi terhadap daya tarik menjadi sangat komplek di jaman global seperti saat ini dan setiap persepsi punya nilai (value) dimata segmen pasar yang berbeda-beda, seperti misalnya sebagian masyarakat mengatakan bahwa Bali tidak akan berubah sepanjang masyarakat Bali ingat sembahyang ke Pura, dilain pihak ada yang menilai sebagian besar kebiasaan hidup orang Bali sudah berubah karena perkembangan globalisasi. Dari sudut pandang pariwisata, Bali tetap memiliki keunikan walau perlu penelitian, sejauhmana pergeseran nilai keunikan ini mulai luntur mengingat keunikan yang terjadi tidak lagi semurni dulu, dimana banyak kebiasaan yang dijalankan saat ini bersifat semakin semu untuk kepentingan pariwisata (komersialisasi). Dan karena komersialisasi inilah yang telah menurunkan tingkat toleransi masyarakat Bali, kalau dulu masyarakat Bali merasa aman bilamana memarkir sepeda dipinggir jalan tanpa dikunci, namun sekarang sudah dikunci juga bisa dicuri orang.

Bali diperkenalkan kepada dunia sejak puluhan tahun lalu memiliki masyarakat yang hidup sederhana, masyarakat Bali cukup bahagia bilamana bisa bersawah, makan-minum dan menjalankan sradha bahkti kehadapan Hyang Widhi dengan beribu-ribu manifestasi dan wujudNYA. Dijaman global ini, kesederhanaan masyarakat Bali sudah berubah menjadi masyarakat yang konsumtif dimana masyarakat Bali lebih banyak waktunya dipergunakan karena konsumtifitas ini, misalnya bermain ke Mall berjam-jam, main game dengan gadgetnya berjam-jam dan sebagainya.

Seperti dikatakan diatas, bahwa dulu masyarakat Bali, masyarakat Kuta pada khususnya senang didatangi wisatawan yang disebut Hipis, namun sekarang ini didatangi wisatawan back packer dan wisatawan yang lebih suka belanja daripada menikmati budaya masyarakat Bali, kita sudah mengeluh, maunya wisatawan yang banyak membelanjakan uangnya saja. Perubahan fenomena ini sangat wajar karena cepat berkembangnya arus komersialisasi, sehingga wisatawanpun mulai dibeda-bedakan, bahkan condong diperlakukan diskriminatif yang bertentangan dengan prinsip kepariwisataan dunia.

Apa sesungguhnya keinginan kita di Bali, apakah harus mengganti brand image Bali?, ya, itu pasti, yaitu mempersepsikan Bali sebagai destinasi pariwisata budaya yang berkelas lebih tinggi sebagai suatu keharusan karena Bali tidak mau diubah menjadi bukan Bali, menjadi Singapore misalnya. Lalu siapa yang harus mendefinisikan hal ini, dan siapa yang harus merubahnya?, tentunya kita tidak bisa saling menyalahkan satu dengan yang lain, antara pemerintah, swasta dan masyarakat.

Dalam setiap perubahan atau komitmen untuk berubah, setiap pihak punya peran dan kewajiban masing-masing, misalnya akademisi dan pakar dengan penelitiannya untuk merumuskan Bali mau diapakan sehingga lebih dikenal oleh masyarakat dunia kelas atas, pengetahuan dan skill masyarakat Bali harus bagaimana, infra struktur nya harus bagaiamana, fasilitas penunjangnya harus bagaimana dan yang paling penting regulasinya bagaimana, serta cara menjual dan mempromosikannya juga bagaimana?

Dengan memahami tulisan diatas, dan tanpa membuka buku mencari referensi tentang apa itu promisi, hanya berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun hidup ditengah-tengah hiruk pikuknya pariwisata Bali, strategi dan taktik promosi  yang dibutuhkan,  kurang lebih sebagai berikut :

1)    Mewujudkan dan menetapkan informasi yang akan disebarkan, hal ini dapat disamakan dengan image positioning, dan image positioning untuk satu destinasi tidak bisa dilakukan tanpa peran pemerintah. Misalnya membenahi dan menjual rural area di Badung Utara sebagai destinasi pariwisata budaya memiliki fasilitas internasional dan akrab dengan alam (green tourism)

2)    Menyebarkan informasi destinasi, metode penyebaran promosi secara online akan menjangkau segala lapis pasar tanpa memandang kaya–miskin mengingat semua orang sudah menyentuh technologi dalam keseharianya, ini yang menyebabkan terbentuknya mass tourism untuk destinasi yang pembangunan kepariwisataan tidak direncanakan dengan baik, misalnya hotel bintang berbaur dengan hotel non-bintang dalam satu zonasi, demikian pula perusahaan legal berbaur dengan perusahaan illegal, dll

3)    Mendapat pelanggan baru, berpromosi tidak saja pada pasar asal wisatawan yang sudah datang kesatu destinasi, namun berpromosi ke pasar-pasar potensial, disamping memperkenalkan produk lebih kreatif dan mendalam. Yang dimaksud dengan lebih mendalam adalah informasi bukan saja tentang makanan yang dihidangkan dihadapan tamu saja, namun darimana asal bahan makanan dan bagaimana bahan makanan itu ditumbuh kembangkan dengan ritual dan doa setiap saat

4)    Menjaga kesetiaan pasar, berpromosi bukan saja untuk meningkatkan transaksi namun juga untuk menguatkan relasi antar manusia dengan meningkatkan komunikasi post-sales mission, oleh sebab itu berpromosi tidak cukup hanya melalui on-line saja. Ada kebutuhan akan sentuhan hubungan antar manusia untuk menjalin relasi yang berkelanjutan.

Dalam sales mission biasanya ada yang disebut table top dengan set-up yang berbeda-beda sesuai kebutuhan, pertemuan antara pebisnis (B to B bisnis meeting),dimana pula pemerintah mewakili destinasi sekaligus sebagai tuan rumah menginformasikan perkembangan destinasi dan bagaimana komitmen pimpinan daerah menyikapi pembangunan kepariwisataan. Adakalanya ada acara bisnis to customer dalam format exhibition di ruang publik dan juga ada semacam executive meeting yaitu pertemuan antara Tour Operators, Perwakilan RI, Airlines sebagai bisnis partner, perwakilan perdagangan RI diluar negeri dan juga dengan para Jurnalis Media Pariwisata Internasional.

5)    Menjaga stabilitas penjualan, di jaman saya, kebijakan akan hight-low seasons’ rates sangat popular dalam memperhitungkan harga rata-rata pertahun, namun saya dengar belakangan ini hal itu semakin sulit dilakukan, karena jumlah supply lebih banyak dari jumlah demand. Oleh sebab itu jadwal dan misi sales mission dalam berpromosi harus menyesuaikan juga dengan jadwal high-low seasons ini.

6)    Membedakan produk/destinasi dengan yang lain, materi promosi itu menjadi efektif bilamana mempertimbangkan hasil analisa persaingan dengan destinasi (Negara) pesaing, sehingga dapat ditekankan apa kelebihan kita dan menutup kelamahan kita.

7)    Membentuk isu menarik, didalam meningkatkan relasi harus ada isu-isu personal yang mengikat persehabatan, oleh sebab itu kegiatan promosi merupakan kegiatan yang terintegrasi dan holistik, tidak bisa dipisahkan antara yang melakukan promosi (updating dan transaksi) dan dengan mereka yang melakukan relasi. Isu atau bahan pembicaraan harus relefan dan fokus pada kepentingan promosi.

8)    Mengubah tingkah laku/ perilaku pasar (berinovasi pada cara menyampaikan informasi), sebatas pantauan saya, kebanyakan kita mempromosikan mana destinasi yang laku dan menguntungkan hanya itu yang di promosikan mengikuti life cycle keberlakuannya. Untuk mengubah tingkah laku pasar pertu disiapkan destinasi atau daya tarik baru untuk dipromosikan, demikian pula cara-cara baru menyampaikan daya tarik yang sama dari sudat pandang yang berbeda.

9)    Meningkatkan transaksi dan profit business, dalam bahasa lumrahnya adalah meninggkatkan arrival dan profit, analisa pasar dan analisa destinasi atau daya tarik menjadi hal penting dalam meningkatkan transaksi maupun profit, misalnya momentum konferensi IMF-WB harus dimafaatkan dengan sebaik-baiknya untuk berpromosi dan menaikkan profit/ value Bali.

10)Menjaga core of business sebagai pariwisata budaya (quality-cultural tourism), menjaga dan mengembangkan core of business menjadi sangat penting oleh pihak eksekutif sebagai penentu kebijakan, salah satunya seperti kebijakan Gubernur Bali yang baru tentang penguatan adat budaya Bali yang harus kita dukung bersama, dan tentu bukan berhenti sampai disana saja, kita juga membutuhkan kebijakan bangunan berarsitektur Bali lengkap dengan tata ruang Bali, sesuai dengan konsep asta kosala kosali dan sebagainya, untuk diberikan jaminan dalam pelaksanaannya.

11)Membangun pendekatan pasar secara utuh, Bali tidak bisa dijual secara parsial, karena yang melakukan promosi juga bukan satu daerah saja, untuk itu dibutuhkan koordinasi semua pelaku promosi, sehingga tercipta one-island promotion. Dan efektivitas promosi juga bisa dinilai lebih terukur, kondisi ini bisa dilaksanakan secepatnya jika diniati.

Tentunya banyak hal yang masih perlu ditangkap sebagai pembelajaran kedepan yang lebih baik, dari sedikit tulisan ini, pada intinya saya ingin mengatakan bahwa marilah kita ciptakan wacana-wacana yang sejuk dalam membangun pariwisata Bali, dan tidak ada lagi kata-kata di media dimana satu pihak mengatakan akan mengontrol teman sendiri yang menempatkan diri inequality. Marilah kita tingkatkan peran masing-masing secara bersahabat dalam mewujudkan Pariwisata Budaya Bali Yang Lebih Berkualitas dan terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip  kepariwisataan yang diakui dunia.

By. Mangku Made Sulasa Jaya


 
 

Message to webmaster